Heboh di Batam: Gurun Bawang Gratis di Tepi Jurang dan Potret Buram Limbah Pangan
Majalah Batam– Sebuah video membanjiri media sosial pada akhir Oktober 2025, menggambarkan pemandangan yang tidak biasa sekaligus memilukan. Puluhan warga di kawasan Melcem, Kelurahan Tanjung Sengkuang, Batam, terlihat berdesak-desakan, memunguti sesuatu dari tumpukan karung yang berserakan di tepi jurang dekat permukiman Sei Tering. Bukan barang rongsokan biasa, melainkan bawang merah dan bawang bombai impor yang masih terlihat segar. Adegan ini, yang awalnya hanya menjadi berita lokal, berubah menjadi fenomena viral yang menyimpan banyak pertanyaan tentang keadilan pangan, limbah, dan kebijakan impor.
Dari Penemuan Kebetulan Menjadi “Demam Bawang”
Kisahnya berawal pada Minggu siang, 26 Oktober 2025. Sejumlah warga sekitar secara tidak sengaja menemukan tumpukan karung besar berisi bawang impor yang dibuang begitu saja di sebuah lokasi yang tidak jauh dari rumah mereka. Kabar “rejeki nomplok” ini menyebar bak virus. Dari mulut ke mulut, dari grup WhatsApp ke grup WhatsApp, warga berduyun-duyun datang dengan membawa karung, kardus, dan kantong plastik.
“Kami sama sekali tidak tahu soal pembuangan bawang itu. Tidak ada koordinasi dari pihak perusahaan. Baru ketahuan hari Minggu siang, saat warga sudah ramai mengambil bawang di lokasi,” tutur Ramli Nasution, Ketua RW 05 Sei Tering, kepada Liputan6.com.

Ramli menegaskan bahwa perusahaan penyortiran bawang dan buah-buahan yang diduga membuang barang tersebut sudah lama beroperasi, namun peristiwa semacam ini adalah yang pertama kali terjadi. “Sebelumnya belum pernah ada kejadian seperti ini. Baru kali ini ada pembuangan barang dalam jumlah besar seperti itu,” ujarnya. Estimasi yang mencengangkan: sekitar 10 ton bawang impor dibuang dalam sekali waktu.
Layak Konsumsi, Tapi Tak Layak Jual: Paradoks yang Menyakitkan
Pernyataan resmi dari pihak kelurahan dan perusahaan justru semakin menguatkan rasa ironi. Bawang-bawang impor tersebut dinyatakan masih layak konsumsi, namun tidak layak jual. Penjelasan ini membuka ruang tafsir yang lebar. Apa sebenarnya yang membuat 10 ton bahan pangan yang masih bisa dimakan harus berakhir di jurang?
Beberapa kemungkinan dapat dijelaskan:
-
Standar Estetika Pasar: Bawang impor mungkin gagal memenuhi standar ukuran, bentuk, atau penampilan (aesthetic standards) yang diterapkan oleh retailer modern. Sedikit kerusakan di kulit, ukuran yang tidak seragam, atau tanda-tanda sedikit lecet bisa membuatnya ditolak.
-
Kelebihan Stok atau Kedaluwarsa: Perusahaan mungkin memiliki stok yang menumpuk dan mendekati tanggal kedaluwarsa, sehingga membuangnya dianggap lebih murah daripada menyimpannya atau mendistribusikannya.
-
Gangguan pada Rantai Dingin (Cold Chain): Kerusakan selama pengiriman atau penyimpanan bisa memperpendek usia simpan, membuatnya tidak ekonomis untuk dijual, meski secara fisik masih terlihat baik.
Bagi warga Sei Tering yang mungkin harus berhemat untuk membeli bawang dengan harga yang kerap fluktuatif, menemukan bahan pangan berkualitas seperti ini secara gratis adalah sebuah keberuntungan. “Warga ramai-ramai datang karena tahu ada bawang gratis,” kata Ramli.
Viralitas: Berkah sekaligus Kutukan
Situasi yang awalnya terkendali berubah kacau setelah beberapa warga melakukan siaran langsung (live) di media sosial. Viralnya video tersebut tidak hanya menarik perhatian warga sekitar, tetapi juga memicu “invasi” dari daerah lain.





