Diam dalam Seng: Menelisik Kondisi Terkini dan Luka Ruko Devin Premiere Batam yang Runtuh
Majalah Batam– Suara riuh lalu lintas di kawasan Marina, Sekupang, seolah tak sanggup menembus kesunyian yang menyelimuti sepuluh unit Ruko Devin Premiere. Pemandangan yang tersisa kini hanyalah dinding seng berwarna oray-oranye, membentuk semacam kuburan massal bagi bangunan yang gagah berdiri suatu ketika. Pada seng itu, tulisan peringatan terpampang jelas: “Dilarang Masuk Bagi yang tidak berkepentingan.” Ini adalah babak baru dari tragedi yang mengguncang warga Batam, sebuah narasi pasca-runtuh yang penuh dengan tanda tanya, kekhawatiran, dan upaya sterilisasi.
Dari Reruntuhan ke Tirai Seng: Upaya Pengamanan Pasca-Bencana
Sejak peristiwa ambruknya tujuh unit ruko pada Jumat sore, 3 Oktober 2025, lokasi kejadian berubah menjadi situs duka dan pusat perhatian. Puing-puing beton, besi-besi bengkok, dan kabel listrik yang berantakan menjadi saksi bisu betapa cepatnya sebuah bangunan bisa berubah menjadi puing. Namun, memasuki pekan berikutnya, wajah lokasi mulai berubah.
Pada Senin, 6 Oktober 2025, pihak developer secara resmi mengambil langkah dengan memasang pagar seng yang menutupi tidak hanya tujuh unit yang runtuh, tetapi juga tiga unit di sekitarnya, total menjadi sepuluh ruko. Tindakan ini, meski terkesan sederhana, adalah sinyal penting. Ini bukan lagi sekadar lokasi kejadian, melainkan sebuah zona bahaya yang sedang dalam proses penanganan intensif.

Baca Juga: Sebuah Pelarian Melintas Provinsi Berakhir di Tangan Polisi
“Ditutup sama pihak developer, hari Senin itu. Kalau gak ditutup bahaya juga anak-anak main atau duduk-duduk disitu malah runtuh lagi kan,” ujar Sri, seorang warga sekitar, pada Kamis (9/10/2025). Perkataan Sri mewakili kekhawatiran kolektif masyarakat. Pagar seng itu berfungsi sebagai pembatas fisik dan psikologis, mengingatkan semua orang bahwa ancaman belum benar-benar sirna.
Di depan ruko, aktivitas pembersihan puing-puing mulai terlihat. Reruntuhan yang sebelumnya berserakan di trotoar dan badan jalan perlahan diangkut, mengurangi risiko dan memulihkan akses di sekitar lokasi. Proses evakuasi barang-barang milik penghuni yang selamat juga telah dilakukan, menyisakan ruang kosong yang siap untuk tindakan selanjutnya.
Retakan di Masa Lalu, Runtuh di Masa Kini: Kesaksian yang Terabaikan
Tragedi ini, sayangnya, bukanlah sebuah kejutan mutlak. Kesaksian dari salah satu korban, Nur Kholis, pemilik Ruko blok D1 nomor 11, mengungkapkan adanya “firasat” yang sebenarnya adalah tanda nyata.
Nur Kholis mengaku “sudah lama melihat retakan di bangunan itu sebelum akhirnya runtuh.” Pernyataan ini ibarat pisau yang menggores lebih dalam luka yang sudah ada. Retakan-retakan itu bukanlah hal sepele; ia adalah jeritan struktural bangunan yang meminta perhatian. Kenyataan bahwa retakan tersebut berakhir pada keruntuhan total memunculkan pertanyaan kritis: Sejauh apa pemantauan dan perawatan yang dilakukan terhadap bangunan tersebut? Apakah laporan tentang retakan ini pernah disampaikan kepada pihak pengembang atau pihak berwenang, dan bagaimana responnya?
Gambaran kerusakan pasca-runtuh semakin memperjelas dahsyatnya insiden ini. Bagian depan bangunan adalah yang paling parah. Sebuah sepeda motor ikut menjadi korban, hancur tertimpa beton. Atap seng (spandek) yang tersisa menggantung precarioiusly, sementara pintu rolling door terlipat ke dalam seperti kertas yang diremas, menunjukkan besarnya tekanan dari runtuhan di atasnya.





